PERHITUNGAN BIAYA DAN ESTIMASI


PERHITUNGAN BIAYA DAN ESTIMASI



PERHITUNGAN BIAYA DAN ESTIMASI
Pengertian dan ruang lingkup
Menurut  pendapat Peter Drucker, tujuan bisnis adalah untuk menciptakan customer, sedangkan kegiatan marketing dan inovasi merupakan dua hal yangmenyebabkan terjadinya hasil (our-come) yang di rencanakan . disini peran divisi pemasaran (marketing) adalah untuk mengidentifikasi segmen-segmen berrdasarkan pada segmen yang akan menghasilkan profit maksimum, serta mengembangkan posisi unik bagi produk atau jasa sesuai dengan target audiencenya. Perusahaan akan menetapkan harga jual (pricing)yang seimbang dengan nilai manfaatdari produk yang di tawarkan untuk memastikan bahwa customer perusahaan mendapat keuntungan dari kepuasannya membeli atau mengkonsumsi produk. Namun, jika perusahaan hanya memikirkan harga jual, kemungkinan akan meminimalisir atau mengabaikan manfaat tambahan yang di butuhkan oleh konsumen seperti model, cakupan teknologi, dan manfaat lainnya, serta layanan atau service.
Robert S. Kaplan yang mencoba mengajukan konsep pengukuran kinerja perusahaan dengan melibatkan seluruh aspek internak perusahaan dan melihat keseimbangan antara kinerja keuangan (financial) dengan kinerja non financial yang di kenal dengan metode balance scorecard.
Selain itu, banyak riset kinerja perusahaan yang mendasarkan diri pada konsep “biaya yang berbasis aktivitas atau activity based-costing.  Activity Based Costing (ABC) dirancang untuk membantu manajemen perusahaan dalam mengukur biaya tidak langsung yang di pakai dalam menarik customernya.
Sistem Activity Based Cost (ABC) mengidentifikasi berbagai macam aktivitas yang dilakukan perusahaan selama proses produksi. Kemudian, biaya overhead akan ditelusuri berdasarkan persentase penggunaannya terhadap aktivitas yang terjadi selama proses produksi. Namun, menurut Kaplan dan Anderson (2007, p.7) terdapat beberapa kendala dalam implementasi ABC, antara lain data yang digunakan bersifat subjektif dan sulit untuk divalidasikan, proses wawancara dan survei membutuhkan banyak waktu dan biaya, serta biaya mahal untuk menyimpan, memproses, dan melaporkan data.
ABC merupakan sistem penentuan biaya yang membebankan biaya ke objek biaya seperti produk atau jasa berdasarkan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya.
ABC   telah   digunakan   perusahaan   keuangan   besar   beberapa  tahun  yang  lalu.   Sistem berusaha  untuk  mengukur   harga   pokok  produk   dan   profitabilitas  pelanggan  
tiap   bulan, tentunya   dengan   mempertimbangkan  tujuan    untuk   mendorong   perbaikan  berkelanjutan, penentuan harga jual, dan aktivitas yang berhubungan dengan pelanggan.
Implementasi ABC konvensional  menimbulkan  masalah  sebagai  berikut:  
(1)  interview   dan   proses survey  membutuhkan    waktu   dan   mahal,
(2)  data  untuk  model  ABC  subyektif  dan  sulit divalidasi,  
(3) data  membutuhkan  penyimpanan,  pemrosesan  dan  pelaporan,  
(4).kebanyakan  model  ABC adalah  lokal  dan  tidak   menyediakan   suatu   pandangan  yang integral  tentang  kesempatan mendapatkan  laba  bagi  perusahaan,  
(5)  model  ABC  tidak mudah  diupdated  untuk mengakomodasi  perubahan keadaan, 
(6)  model ini secara teori tidak  benar jika  mengabaikan penggunaan  kapasitas  yang
     secara potensial  tidak digunakan.

Firdaus dan Wasilah (2009) menyatakan kelebihan dari sistem ABC adalah sebagai berikut:
1. Biaya produk yang lebih akurat, baik pada industri manufaktur maupun industri jasa lainnya khususnya jika memiliki proporsi biaya overhead pabrik yang lebih besar.
 2. Biaya ABC memberikan perhatian pada semua aktivitas, sehingga semakin banyak biaya tidak langsung yang dapat ditelusuri pada objek biayanya.
3. Sistem ABC mengakui bahwa aktivitas penyebab timbulnya biaya, sehingga manajemen dapat menganalisis aktivitas dan proses produksi tersebut dengan baik ( fokus pada aktivitas yang memiliki nilai tambah) yang pada akhirnya dapat melakukan efisiensi dan akhirnya menurunkan biaya.
4. Sistem ABC mengakui kompleksitas dari diversitas proses produksi modern yang banyak berdasarkan transaksi / transaction based.
5. Sistem ABC juga member perhatian atas biaya variable yang terdapat dalam biaya tidak langsung.
6. Sistem ABC juga cukup fleksibel untuk menelusuri biaya berdasarkan berbagai obyek biaya. Baik itu proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk. Walaupun penerapan sistem ABC memiliki banyak keuntungan tetapi penerapan tersebut tidak membuat seluruh biaya akan mudah dibebankan kepada objek biayanya dengan mudah. Hal ini disebabkan karena biaya- biaya yang dikelompokkan dalam sustaining level ketika dialokasikan sering kali juga menggunakan dasar yang bersifat arbiter. Misalnya, biaya keamanan pabrik merupakan contoh dari sustaining level, ketika membebankan hal tersebut pada objek biaya yang berupa produk, maka mungkin digunakan pendekatan arbiter, seperti berdasarkan jumlah jam kerja tenaga kerja dengan alas an semakin lama proses produksi maka membutuhkan jasa keamanan yang semakin besar.

Namun karena implementasinya cukup sulit dan datanya sering tidak tersedia secara lengkap maka Kaplan menyarankan metode ABC yang di sempurnakan menjadi metode “time Driven Activity-based Costing atau TDABC.
Adeoti dan Valverde (2013), melakukan penelitian yang berfokus pada kontribusi aktivitas pegawai pelayanan teknologi informasi terhadap layanan itu sendiri. Penelitian ini berisi tentang implementasi TDABC pada pengelolaan biaya untuk layanan teknologi informasi dan bagaimana TDABC dapat digunakan untuk mencapai pengurangan biaya yang signifikan pada layanan tersebut. Dalam penelitian ini model TDABC dibuat untuk mengevaluasi biaya setiap jenis layanan yang dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai biaya dari setiap jenis layanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TDABC mampu menunjukkan biaya secara terstruktur sehingga informasi yang berguna dapat diperoleh untuk membantu manajer operasional teknis dan supervisi agar fokus pada pengelolaan biaya, pelanggan, atau produk. Hal tersebut mampu mengurangi biaya operasional, menghasilkan efisiensi permintaan anggaran, dan membantu pengambilan putusan yang mengarah pada penghematan. Stout dan Propri (2011) meneliti implementasi TDABC di perusahaan elektronik dengan menggunakan dua pusat biaya (cost center), yaitu proses order domestik dan engineering. Cost center proses order domestik terdiri atas biaya pendukung dua departemen, yaitu akuntansi dan layanan pelanggan. Cost center engineering mengidentifikasi beberapa aktivitas, seperti implementasi perubahan biaya, pengembangan produk baru, dan aktivitas engineering lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TDABC menyediakan informasi biaya yang lebih akurat, mudah dipertahankan, dan terintegrasi dengan data yang tersedia pada sistem enterprise resource planning (ERP).
Lima Mitos Tentang Time Driven activity based costing (TDABC)
TDABC telah dikenal lebih menguntungkan dan powerfull daripada ABC konvensional. Meskipun begitu, mitos berikut upaya untuk menggambarkan ABC konvensional sebagai metodologi praktis (Kaplan, 2009) :
1.      TDABC adalah  suatu  metodologi  baru  yang  revolusioner.
2.      TDABC adalah  obat  mujarab  untuk  memperkirakan  biaya.
3.      TDABC  lebih  mudah  untuk  dikembangkan  dan dipertahankan.
4.      TDABC membantu  mengambil  keputusan lebih  cepat,  keputusan  bisnis  yang lebih  baik,  karena TDABC  berfokus pada  waktu sehingga mengesampingkan  factor biaya lainnya, juga berfokus pada standar waktu, sehingga mengurangi durasi dan jumlah waktu  dalam  aktivitas cost  driver,  tidak untuk menyelidiki faktor lain misalnya factor pengurangan biaya yang lebih efektif.
5.      Hanya vendor  software tertentu yang dapat  melakukan TDABC
Time Driven adalah suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk menghindari berbagai kesulitan dalam melakukan implementasi ABC. Metoda Time-Driven Activity-Based Costing memiliki dua parameter, yaitu:
 1. Pembebanan biaya untuk setiap unit waktu yang digunakan sumber daya yang tersedia dalam memenuhi kapasitas yang tersedia sesuai dengan aktivitas perusahaan/bisnis. (Total pengeluaran Overhead dibagi dengan total jam kerja karyawan yang digunakan/tersedia).
2. Penilaian dari unit waktu yang digunakan dalam setiap aktivitas: berapa banyak waktu yang digunakan dalam menyelesaikan satu unit produk pada setiap aktivitas (hal ini didasarkan pada hasil perkiraan atau pengamatan langsung).

Kelebihan dan Kelemahan Time Driven Activity Based Costing Keuntungan dari Time Driven Activity Based Costing adalah TDABC memperpendek waktu mengumpulkan data, hanya menggunakan satu cost driver yaitu berdasarkan waktu. Sedangkan kelemahan dari Time Driven Activity Based Costing adalah kesalahan estimasi waktu yang dilakukan dalam menghitung waktu pada setiap sumber daya.
Perbandingan antara TDABC, ABC dan sistem perhitungan biaya tradisional.
Perbedaan umum antara TDABC, ABC System dan sistem tradisional adalah homogenitas dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC System merupakan sistem perhitungan biaya dua tahap, sementara sistem tradisional bisa merupakan sistem perhitungan satu atau dua tahap.
Di tahap pertama dalam ABC System, tempat penampungan biaya aktivitas dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan ke aktivitas berdasarkan pemicu sumber daya.
Di tahap kedua, biaya aktivitas dialokasikan dari tempat penampungan biaya aktivitas ke produk atau objek biaya final lainnya. Sebaliknya, sistem biaya tradisional menggunakan dua tahap apabila departemen atau pusat biaya lain dibuat (Carter, 2009). TDABC juga memiliki sistem perhitungan dua tahap namun yang membedakan TDABC dengan yang lainya adalah cost driver yang digunakan adalah penggerak waktu. TDABC dan ABC System memiliki kesamaan hal yang paling membedakan adalah pada penetapan cost driver dan pada TDABC tidak menggunakan klasifikasi aktivitas.
Rumus yang di gunakan untuk menghitung biaya total / total cost (TC) suatu aktivitas adalah :
TC = Ch X Th
Dimana :
TC                   = Biaya Total
Ch                    = Biaya per jam kerja
Th                    = Unit waktu yang digunakan
Sebuah perusahaan database akan menghitung biaya yang harus di keluarkan atau di bebankan pada suatu aktifitas dengan menggunakan metode time-driven-activity based costing (TDABC). Perusahaan database yang menjual software bisnis tersebut membutuhkan biaya teknisi untuk melayani pelanggan (customer) sebesar Rp. 140 per jam. Berdasarkan data yang ada disebutkan bahwa layanan teknisi kepada customer-nya di lakukan selama 45 menit, sehingga biaya total (TC) yang di keluarkan adalah 105.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
TC = Ch X Th  dan TC = Rp. 140 x ¾ jam = Rp. 105
Hubungan Biaya dan Pengambilan keputusan

Hubungan biaya pada suatu aktivitas  dengan pengambilan keputusan adalah tercapainya efisiensi dari suatu aktivitas tanpa mengorbankan layanan kepada para customer perusahaan.  Metodepembebanan atau perhitungan biaya tidak langsung dan biaya variable adalah metode pembebanan biaya yang didasarkan pada aktivitas (TDABC) yang merupakan penyempurnaan dari metode activity based costing (ABC).

Peningkatan biaya layanan  (service) per unit yang melebihi kenaikan harga jual per unitnya  yang melebihi kenaikan harga jual per unitnya akan menurunkan profit perusahaan walaupun volume penjualannya meningkat.
Biaya tambahan untuk mendukung service dan tampilan produk yang merupakan biaya tidak langsung yang bersifat variable akan mendorong peningkatan biaya operasional suatu aktivitas, yang menyebabkan penurunan profitabilitas dari aktivitas tersebut. Hal ini berarti bahwa memahami profitabilitas customer adalah penting untuk mengetahui semua biaya, bukan hanya biaya tetap saja. TDABC merupakan pendekatan yang berguna untuk mengidentifikasi biaya tidak langsung, khususnya pada setiap aktivitas yang berhubungan dalam menghasilkan cutomer pertama.
Kelompok Biaya Dalam Hubungannya dengan Pengambilan Keputusan
Biaya dalam rangka pengambilan keputusan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Biaya Relevan : Biaya masa akan datang yang berbeda dalam alternatif yang berbeda. Biaya relevan terdiri dari :
·         Biaya Differensial : selisih biaya atau biaya yang berbeda dalam beberapa alternatif pilihan. Biaya differensial disebut juga biaya marginal atau biaya incremental. Contoh perusahaan memilih membeli bahan baku antara aluminium atau besi. Jika menggunakan aluminium biaya yang dikeluarkan Rp. 200.000,- sedangkan jika menggunakan besi, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 300.000,-. Dari keterangan tersebut terlihat bahwa ada dua alternatif yang berbeda dengan dua biaya yang berbeda, perbedaan tersebut sebesar Rp. 100.000,-
·         Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) : biaya yang dikorbankan dalam memilih suatu alternatif. Contoh perusahaan memiliki dua pilihan, apakah gedung yang dimiliki akan disewakan atau dijual. Jika disewakan akan mendapatkan pendapatan Rp. 150 juta dan jika dijual akan mendapatkan keuntungan Rp. 200 juta. Jika memilih alternatif pertama maka perusahaan akan kehilangan potensi memperoleh pendapatan lebih besar Rp. 50 juta dibanding jika disewakan. 
·          Biaya Tersamar : Biaya yang tidak kelihatan dalam catatan akuntansi tetapi mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Contoh Biaya bunga.
·         Biaya Nyata : Biaya yang benar-benar dikeluarkan akibat memilih suatu alternatif. Contoh. biaya yang dikeluarkan akibat memilih jika menerima pesanan dari luar. 
·         Biaya yang dapat dilacak : Biaya yang dapat dilacak kepada produk selesai. Contoh biaya bahan baku langsung 
2. Biaya Tidak Relevan : Biaya yang dikeluarkan tetapi tidak mempengaruhi keputusan apa   pun. Terdiri dari :
·         Biaya masa lalu (biaya historis) : biaya yang sudah dikeluarkan tetapi tidak mempengaruhi keputusan apapun. Contoh pembelian peralatan 
·         Biaya Terbenam : Biaya yang tidak dapat kembali. Contoh Penyusutan

Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan 
Langkah-langkah ini meliputi:
1.      Penentuan masalah, misalnya mengganti mesin baru dengan yang lama, menutup salah satu bagian dari perusahaan, dan sebagainya.
2.      Mengenal dengan baik kemungkinan atau alternatif-alternatif yang ada.
3.      Menetapkan data dan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil dan masalahnya, karena tidak semua data atau biaya relevan dengan masalah.
4.      Mengevaluasi data, dengan metode yang berkaitan pada alternatif atau evaluasi yang bagaimana seharusnya dibuat.
5.      Mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif.
6.      Keputusan dan alasan diambilnya

Ramalan Data Pemasaran
Pengertian dan Ruang Lingkup Hubungan Sebab Akibat                                                       (Causal Forecast)
Ramalan data pemsasaran yang didasarkan pada hubungan kasual akan membantu manajer mengukur pemasaran dengan mempelajari perilaku hubungan anatara variable bebas (predictor)dan variable terikat yang bertindak sebagai respons.Para pengambil kebijakan di bidang pemasaran(marketing manager)harus berusaha untuk mengetahui berapa banyaknya produk yang terjual dalam suatu periode(variable terikat, atau “output”) yang diperoleh melalui sejumlah pengeluaran  untuk melaksanakan strategi pemasaran yang diprogramkan pada periode tersebut(variable terikat atau “input”). Hubungan antara produk yang terjual dengan pengeluaran di bidang pemasaran sangat penting untuk dianalisis guna menentukan derajat hubungan /asosiasi antara kedua variable itu,sekaligus memperediksikan banyaknya produk yan terjual pada anggaran biaya pemasaran tertentu .Berdasarkan analisis kausal ,perusahaan dapat menjawab  apakah efisiensi biaya pemasaran sudah tercapai.Selan itu , manajer pemasaran juga dapat melakukan prediksi terhadap suatu variable pemasaran jika variable pemasaran lainya mengalami perubahan . Hal tersebut dapat bula berupa berarti bahwa nilai (satuan tertentu) dari variable terikat yang secara langsung dipengaruhi oleh variable bebas.Oleh sebab itu, perubahan pada suatu produk atau program marketing dapat dipengaruhi oleh tingkah laku buyer (penurunan harga yang menyebabkan naikanya pembelian).Perubahan yang muncul dapat yang sudah ada, yang hasilnya akan merubah performa kinerja manjer untuk mengukur dampak perubahan suatu variabel bisnis tehadap suatu variabel bisnis lainya (dan/atau customer atau partisipan berharga lainnya).
Misalnya perusahaan seperti Nike atau Adidas , keduanya memproduksi sepatu olahraga (atletik), berminat untuk memprediksi berapa banyak sepatu basket yang mreka jual tiga tahun kedepan.Melalui acara review data sensus dari populasi remaja serta survei pertumbuhan trend pada dunia basket remaja, perusahaan dapat memproyeksikan potential demend yang dihadapi perusahaan Melalui asumsi bahwa populasi remaja di Amerika yang mempunyai minat terhadap basket diprediksikan akan tumbuh( variabel bebas ), maka perubahan variable tersebut dapta digunakan untuk memproyeksikan pertumbuhan sales sepatu Nike dan Adidas (variable terikat )
Contoh pola hubungan hausal variabel pemasaran lainya:
  • Penngkatan permintaan (demand) terhadap AC naik selama musim panas’
  • Perubahan penjualan es krim karena adanya perubahan temperatur
  • Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh sebuah restoran untuk melayani customer nya akan lebih banyak pada saat jam makan
  • Metode peramalan hubungan kasual
  • teknik yang umum digunakan dalam prediksi kausal adalah regresi linier .Analisis regresi menunjukan hubungan fungsional antara data (variabel bebas atau predivtor) dengan data=fungsi data, pada metode ini , ketika variabel terikat (biasanya ditempatkan pada sumbu vertikal pada grafik) berubah karena perubahan pada variabel yang lain (yang gambar yang membentuk garis lurus yang ditarik dari diagram pencarnya (scateer diagram )secara bebas berdasarkan “free hand method”. Secara sederhan , regresi linier dipakai untuk menentukan apakah ada hubungan positif/negatif atau netral dari dua jenis data(variabel)yang dipelajari. Persamaan garis regresi sederhana (simple linear regression) antara satu variabel bebas terhadap satu variabel terikatnya, ditentuakn dengan model persamaan :
Text Box: ^                                           Y = a+bx


                              
                                  
                                  (persamaan garis regresi linear sederhana )
Dimana:
 Y= merupakan variable terikat / respns
Y^= Prediksi nilai Y pada X tertentu
 a=intercept (perkiraan nilai Y jika X=0
 b =slope atau kemiringan garis regresi
X= variable bebas (predictor)
n = jumlah pengamatan

Nilai nilai koefisien garis regresi , yaitu a dan b dapat diduga dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (least square) yang menjamin diperoleh nya jarak minimal antara nilai sebenarnya (Y) dengan nilai harapan atau ramalan (Y^) . hal ini berarti metode least square dapat memprediksikan nilai yang sebenarnya diharapkan /diprediksikan.
Nilai a diinterpetasikan sebagai nilai prediksi (Y) jika variabel predictornya (X) bernilai 0 , sedangkann b diinterpretasikan
Sebagai perubahan nilai prediksi (Y) jika terjadi perubahan pada nilai variabel predictor sebesar satu satuan. Semakin besar nilai b maka semakin kuat pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikatnya (Y). Hal ini berarti bahwa X merupakan variabel yang signifikan sebagai stimulus terhadap perubahan variabel Y. Jika X yang merupakan variabel predictor adalah biaya promosi dan variabel terikatnya Y merupakan hasil penjualan maka semakin besar nilai b dalam persamaan regresinya . hal itu menunjukan bahwa program promosi yang dilaksankan sudah memberikan pengaruh positif yang kuat terhadap hasil penjualannya, sehingga program promosi itu dapat dipertahankan atau bahkan ditingatkan karena akan memberikan peningkatan kinerja pemasaran yang telah diperogeramkan perusahaan
Sebailknya nilai a yang besar pada persamaan itu menunjukan bahwa tanpa melakukan promosi , perusahaan suda mendapatkan hasik penjualan yang besar,sehingga nila parameter ini dapat menjadi pertimbangan kateika perusahaan akan mengeluarkan biaya guna melaksanakan program pemasaran yang dirancang perusahaan . sedangkan, nilai a adan b negatif merupakan hal yang diharapkan dalam persamaan regresi ,yang menghubungkan pengeluaran untuk memberikan layanan pada konsumen dengan jumlah konplain dari konsumen terhadap perusahaan. Pada analisis hubungan kausal dengan menggunakan persamaan garis regresi tersebut adalah tercapainya validitas teoritis (tanda parameter) dan validitas statistik (hasil uji terhadap besaran parameter garis regresi ) .jika keduanya valid maka garis regresi tersebut memang layak sebagai alat analisis Nilai a dan b dalam persamaan garis regresi sederhana (simple linear regression) dapat diduga dengan rumus berikut :
Y – b x
 
 

Intercept                                                                     = a =
     n E XY ( E X) (E Y )
         n E X2 ( E X)2
 
 

Slope kemiringan                                                        = b =
N E XY – ( E X) ( EY)
E X2 – n X2
 
 

                                                                                                            =

Kekuatan (kadar ) hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) harus diukur ,guna melengkapi persamaan garis regresi yang sudah diperoleh . koefisien yag digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tersebut dikenal sebagai koefisien korelasi (r) pada kasus ini ,koefisien korelasi mempunyai rentang nilai -1 sampai dengan +1 .jika r = ± 1 maka hubungan variabel X dan Y dinyatakan sempurna . jika r mendekati±1 , maka hubungan X dan Y cukup kuat (signifikan ). Sedangkan jika r semakin mendekati nol. Maka hubungan X dam Y semakin lemah , bahkan jika mencapai angka nol maka X dan Y tidak ada hubungan sama sekalu . Namun, para pengguan regresi dan korelasi perlu memahami bahwa variabel X day Y yang dipasangkan sebagai hubungan kasual harus merupakan variabel yang secara logis dan teori memang mempunyai hubungan satu sama lain .Jika variabel tinggi gedung (X) dipasangkan dengan variabel julah produk yang terjual(Y) maka berapapun nilai (r) harus dinyatakan tidak ada hubungan .koefisien korelasi sampel r data diditung , antara lain dengan rumus pearson :
 




Dimana :
  R = koefiseien korelasi sampel
N = jumlah priod / pengamatan
X = variabel bebas ( misalnya tingkat bunga )
Y = variabel terikat ( misalnya investasi)

Pada akhirnya , orang orang yang memprediksikan (forecaster)perlu menghitung presentase variasi perubahan variabelterikat (Y) yang dapat dijelaskan oleh variasi perubahan variabel bebasnya (X), yang dikenal dengan koefisien penentu atau koefisien determenasi . kekuatan hubungan antara  variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) dengan koefisien korelasi bentuk kuantitatif (presentase ) , koefisien deetermenasi (Kd) adalah kuadrat koefisien korelasi yaitu : Kd = r2 x 100 %
Guna memberikan gambaran yang lengkap  mengenai cara kerja persamaanregresi maka koefisien korelasu dan koefisien determenasinya menggunakan data hipotesis (tabel 6.4)


Tahun
Hasil jumlah /krat (ribuan Rp)(X)
Jumlah permintaan (ribuan krat )
(Y)


    XY


     X2


     Y2
1998
57,60
565



1999
63,36
545



2000
63,36
540



2001
66,53
500



2002
69,85
475



2003
69,85
480



2004
76,84
465



2005
84,52
450



2006
88,75
420



2007
90,97
405



2008
90,97
400



11
822,60
5245
385.531,80
  63.006,6854
2533,025

Text Box: CARI
X = 822,60/11= 74,782   Y = 5245/11 = 476,82
n E Y2 – ( E Y)2  = 11 (2533,025) – (5245) 2   =  353,250
n E X 2 – ( E X ) 2 = 11 (63.006,6854) – (822,6)2   =  16.402,7794
n E XY – E X E Y = 11(385.531,80) – (822,60) (5245)  =  73.687,20




Hal tersebut berarti bahwa persamaan garis regresinya adalah Ŷ = 812,741 – 4,492 X dan koefisien korelasinya adalah :
Berdasarkan data tersebut, diperoleh nilai-nilai parameter sebagai berikut :
Cari slope kemiringan, intercept (Kd)
Dapatkan persamaan garis regresinya
Dan cari nilai koefisien  determinasinya

Dan nilai koefisien determinasinya (Kd) adalah :
                        Kd=(-0,968)2 x 100 % = 93,70

Hasil  perhitungan statistik tersebut menunjukan bahwa selama tahun 1998 hingga 2007 , jika ada kenaikan harga jual teh botol “A’ sebesar Rp 1000 dalam setiap kratnya maka akan diikuti oleh turunya permintaan teh tersebut sebanyaj 4.492 krat. Sementara itu, hubungan antara perubahan harga dengan perubahan jumlah permintaan teh adalah cuku kuat dengan angka koefisien sebesar -0,968. Hal ini berarti bahwa setiap ada perubahan harga sedikit saja maka akan diikuti oleh kenaikan jumlah permintaan tehsecara signifikan.
Pada kasus ini sebesar 93,70 % variasi perubahan jumlah permintaaan teh merek “A” dapat dijelaskan oleh variasi perubahan harga jualnya dengan hanya 6,03%cyang dijelaskan oleh faktor laing faktor lain diluar harga jual. Informasi ini sangat penting bagi perusahaan karena pelanggan  teh botol merek “A” merupakan pembeli yang sensitif tehadap harga jual. Oleh karena itu ,pricing policy (kebijakan harga ) merupakan kebijakan strategis yangdiperlukan untuk mendorong pertumbuhan permintaan ada tahun 2008 , perusahaan menetapkan harga jual produknya sebesar Rp 75.250 per kratnya

Metode Peramalan Data Periodik (Time series forecast)
Para pemasar( marketer) harus secara regular (rutin / terus menerus ) mengambil keputusan tentang kegiatan pemasaran (marketing) di masa depan . aliansi strategis dengan seluruh objektif (tujuan) perusahaan , penentuan budget marketing, pricing ( penentuan harga ) dan perlembangan pelanggan merupakan diantara banyak aktivitas yang termasuk dalam bentuk- bentuk khusus tanggung jawab maketing manager . aktivitas – aktivitas ini merupakan bagian dari upaya erencanaan marketing. Banyak keputusan perencanaan pemasaran (marketing) yang didasarkan kepada penjualan marketing masa depan
Melalui pemahamn performa sales masa depan, perusahaan dapat melakukan antisipasi ternd bisnis di masa depan berikut faktor – faktor yang mempengaruhinya .berdasarkan informasi ini perusahaan merumuskan semua kondisi bisnis yang mampu mendukung rekomendasi perencanaan marketingyang reasonable . jika dalamanalisis regresi-korelasi yang dipasangkan secara kasual adalah dengan data , maka didalam analisis time series data perusahaan akan dipasangangkan dengan waktu yang terikat pada data tersebut,Analisis data t ( variable terikat atau respons ) dengan waktu (variable teriakat atau predictor) dinyatakan sebagai analisis  time series.Hal tersebut berarti , dalam analisis time series data = fungsi  Waktu sehingga X= unit waktu dan Y = data ( misalnya perkembangan permintaan , produksi , harga, dam lain lain )
Berkaitan dengan prediksi data di masa datang , anaisis time series adalah metode statistik yang menggunakan data kuantitatif masa lau untuk memprediksi perfirma bisnis di masa depan.Metode analisis data time series yang paling dikenal menggunakan metode “trend”. Trend ini menunjukan pola gerakan data yang lamban cenderung seperti gelombang yang menuju satu arah menaik atau menurun. Persaman trend linier yang sekuler sama persis dengan persamaan regresi linear
Sederhana yaitu : Ŷ= a= bX . guna memprediksi nilai a dan b pada persamaan tersebut maka dapat digunakan beberapa metode seperti , yaitu ;
  1. Metode kuadrat terkecil (least quarter)
  2. Metode setengah rara- rata ( semi average)
  3. Metode rata rata bergerak ( moving average)

Prediksi dengan menggunakan metode kuadra terkecil ( least square)
prediksi data time series, dengan mengunakan metode kuadrat terkecil (least square) akan menghasilkan prediksi yang paling meyakinkan seperti yang terlihat pada Tabel 6.2yang dapat menjelaskan kondisi permintaan atau demand  pada periode berikutnya sesuai dengan konsisi data pada periode sebelumnya
Hal ini penting dilakukan karena prediksi yang konsisten akan dapat membantu para pemasar untuk menentukan langkah-langkah strategis di bidang pemasaran yang sesuai dengan perubahan kebutuhan pasar .
Persamaan trend dengan menggunakan metode least square yaitu, Ŷ=a+bX , dalahm hal ini  :X= variabel bebas( unit waktu ) yang menjamin ∑x=0

Persamaan trend dengan menggunakan  metode least square, yaitu Y = a + b X, dalam hal ini :  X = variable bebas (unit waktu), yang menjamin  E X  = 0

Dimana:
  •  Y= merupakan variable terikat / respns
  • Y^= Prediksi nilai Y pada X tertentu
  •  a=intercept (perkiraan nilai Y jika X=0
  •  b =slope atau kemiringan garis regresi, garis trend yang menunjuk rata-rata perubahan Y^ per periode selama periode data yang di pelajari (khusus untuk data dengan jumlah periode pengamatan genap,  b adalah  rata-rata  perubahan Y per setengah periode)

Y – b x
 
 

  • Intercept                                                                     = a =
     n E XY ( E X) (E Y )
         n E X2 ( E X)2
 
 

  • Slope kemiringan                                                        = b =
n E XY – ( E X) ( EY)
E X2 – n X2
 
 

                                                                                                            =

                 Namun karena E x = 0 maka b =  E XY
                                                           
                                                                        E X2
                                                             a= Y

dengan metide least aquare. Perbedaannya  adalah pada prinsip nilai total unit waktunya. Jika metode least aquare mengharuskan jumlah unit waktunya sama engan 0maka metode semi average justru tidak memungkinkan jumlah unit waktunya sama dengan nol. Prediksi Dengan

Metode Setengah rata-rata
(Semi average)

Metode ini hampir sama dengan metode least square.
Metode semi average mengharuskan data yang di pelajari di kelompokkan menjadi dua bagian, setiap kelompok data harus memuat jumlah periode waktu pengamatan yang sama.  Persamaan trend linear dengan metode semi average tetap sama, yaitu :
 Y=a+bx yang dalam hal ini nilai a akan ditaksirdengan nilai mean (rataan) kelompok data pertama (Y1),dan b ditaksir dengan menggunakan rumus:b=(Ӯ2-Ӯ1)
                                                                                                ______:
                                                                                                     n

dimana n adala jarak antara periode dasar pada kelompok pertama dan periode dasar pada kelompok kedua

Prediksi dengan Metode Rata-Rata bergerak(moving average)
Prediksi data time series dengan menggunakan metode rata-rata begerak (moving average)dapat dilakukan dengan suatu cara pendekatan , yaitu: (1) moving average tidak tertimbang (2)weighted moving average .pendekatan moving average dengan timbangan tertentu (koefisien binominal)merupakan pendekatan yng paling umum digunakan dalam metode moving average

1 rata rata bergerak sederhana (unweighted moving average )
Ahli prediksi (forecaster)akan memilih jumlah periode yang mewakili(representative) guna memprekdisikan data dengan mengunakan metode rata-rata bergerak (oving average).periode yang digunakanuntuk menghitng pergerakan data secara rata-rata pada umumnya berjumlah ganjil 3,5 dan 7.kelemahan utama metode ini adalah tidak adanya nilai trend pada data pertama dan terakhir sert tidak dapat digunakan untuk memprediksi data diluar niali data historisny karena kita tidak memperoleh data trend nya

2.weighted moving average
Weighted moving average (weighted average ) menjelaskan weights (timbangan) terhadap data dalam periode pergerakan yang dipelajari.Timbangan yang digunakan dalam metode rata rata bergerak ini adalah koefisien binominal .Jika kite menggunakan ilusi rata-rata bergerak 3 tahun maka timbangan yangdigunakan adalah 1,2 dan 1 sehingga rata rata bergerak (moving average)dari data yang dipelajari selama periode pergerakan 3 periode adalah jumlah data selama periode (misalnya tahun )dengan menyertakan timbanganya [(Y1 X1+ Y2 + Y 3 x 1)]

Kesimpulan
beberapa konsepbiaya yang relevan untuk membuat keputusan manajerial ,antara lain :
1.konsep biaya opportunitas
2.konsep biaya eksplisit dan implisit
3. konsep biaya inkrementral dan sunk cost
4.konsep biaya jangka panjang dan jangka pendek

Strategi penetapan struktur biaya mengacu pada scenario pencapaian tujuan yaitu :;
1.Melaksanakan aktivitas produksi pada tinkatanbiaya minimum
2.menetapkan harga produk yang kompetitif di pasar
3.memperluas pangsa pasar melalui keunggulan kompetitif
4.memperoleh penerimaan totaldan keuntungan total yang terus menerus meningkat
5.meningkatkan kesehjateraan bagi stakeholder

Pengertian dan ruang lingkup
Menurut pendapat peter drucke, tujuan bisnis adalah untuk menciptakan customer,sedangkan kegiatan marketing dan inovasi merupakan dua hal yang menyebabkan terjadinya (out-come)yang direncanakan.
Peranan devisi pemasaran adalah untuk mengidentifikasikan segmen-segmen berdasarkan pada kebutuhan dan karakteristik customer,menargetkan segmen-segmen yang akan menghasilkan profit maksimum ,serta mengembangkan posisi unik bagi produk atau jasa yang sesuai dengan target audisiencynya

Perhitungan biaya berdasarkan metode TDABC
2 faktor penting peritungan biaya bedasarkan metode TDABC
1 biaya pe jam setiap departemen yang bekerja terhadap customer
2.produk atau aktivitas yang berhubungan dengan jasa serta waktu khusus yang dibebankan bagi suatu aktivitas
Rumus yag digunakan untuk menghitung biaya total/total cost (TC) suatu aktivitas adalah :
TC = Ch x Th
Dimana :
TC = biaya total
Ch=biaya per jam kerja
Th=unit wakty yang digunakan
HUbungan biaya &pengambilan keputusan
Hubungan biaya dan Pengambilan Keputusan adalah tercapainya efisiensi dari suatu aktivitas tanpa mengorbankan layanan kepada customer perusahaan
Metode pembebanan atau perhitungan biaya tidak langsung dan biaya variable adalah metode pembebanan biaya yang didasarkan pada aktivitas(time-driven activity based costing atau TDABC)yang merupakan penyempurnaan dari metode activity based costing (ABC)
Perhitungan biaya dengan metodeTDAB memungkinkan para marketer dapat memahami biaya tidak langsung yang dipakai dalam mendukung dan mengomunikasikan strategi diferenisasi an pricing yang telah dikembangkan perusahaan
Contoh:
Kenaikan biaya service dikarenakan perusahaan tergoda untuk menambah tampilan rodk atau service agar customer tidak pindah ke perusahaan competitor.Peningkatan biaya layanan(service )per unit yag melebihi kenaikan harga jual per unitnya akan menurunkan profit perusahaan walaupun volume penjualanya meningkat.
Karena TDABC merupakan pendekatan yang berguna untuk mengidentifikasikan biaya tidak langsung,khususnya padasetiap aktivotas yang berhubungan dalam menghasilkan customer pertama

Ramalan Data Pemasaran
a.pengertian dan ruang lingkup hubungan sebab akibat
contoh pola huunan kausal variable pemasaran lainnya :
  • Peningkatan permintaan terhadap AC naik selama musim panas
  • Perubahan penjualan es krim karena adanya perubahan temperature
  • Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh restoran untuk melayani customernya akan lebih banyak pada saat jam makan
b.metode peramalan hubungan kausal
pada metode ini ketika variable terikat(biasanya ditempatkan pada sumbu vertikal pada grafik) berubah karena perubahan pada variabel yang lain (yang gambar yang membentuk garis lurus yang ditarik dari diagram pencarnya (scateer diagram )secara bebas berdasarkan “free hand method”persamaan garis linear sederhana
Ӯ=a+bx
Dimana;
           Y= merupakan variable terikat / respns
           Y^= Prediksi nilai Y pada X tertentu
           a=intercept (perkiraan nilai Y jika X=0
           b =slope atau kemiringan garis regresi
           X= variable bebas (predictor)
           N = jumlah pengamatan
c.metode peramalan data periodic
analisis time series adalah metode statistic yang menggunakandata kuantatif masa lalu untuk memprediksikan performa bisnis masa depan .

guna memprediksi nilai a dan b pada persamaan tersebut maka dapat digunakan beberapa metode seperti , yaitu ;
1.   Metode kuadrat terkecil (least quarter)
2.   Metode setengah rara- rata ( semi average)
3.   Metode rata rata bergerak ( moving average)
d.prediksi dengan metode kuadrat terkecil
prediksi data time series, dengan mengunakan metode kuadrat terkecil (least square) akan menghasilkan prediksi yang paling meyakinkan seperti yang terlihat pada Tabel 6.2yang dapat menjelaskan kondisi permintaan atau demand  pada periode berikutnya sesuai dengan konsisi data pada periode sebelumnya
Hal ini penting dilakukan karena prediksi yang konsisten akan dapat membantu para pemasar untuk menentukan langkah-langkah strategis di bidang pemasaran yang sesuai dengan perubahan kebutuhan pasar .

e. Metode Setengah rata-rata
(Semi average)

Metode ini hampir sama
Metode semi average mengharuskan data yang di pelajari di kelompokkan menjadi dua bagian, setiap kelompok data harus memuat jumlah periode waktu pengamatan yang sama.  Persamaan trend linear dengan metode semi average tetap sama,

 f. rata rata bergerak sederhana (unweighted moving average )
Ahli prediksi (forecaster)akan memilih jumlah periode yang mewakili(representative) guna memprekdisikan data dengan mengunakan metode rata-rata bergerak (oving average).periode yang digunakanuntuk menghitng pergerakan data secara rata-rata pada umumnya berjumlah ganjil 3,5 dan 7.kelemahan utama metode ini adalah tidak adanya nilai trend pada data pertama dan terakhir sert tidak dapat digunakan untuk memprediksi data diluar niali data historisny karena kita tidak memperoleh data trend nya

g.weighted moving average
Weighted moving average (weighted average ) menjelaskan weights (timbangan) terhadap data dalam periode pergerakan yang dipelajari.
Estimasi Biaya
Estimasi biaya adalah penghitungan kebutuhan biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu kegiatan atau pekerjaan sesuai dengan persyaratan atau kontrak.
Dalam melakukan estimasi (perhitungan) biaya diperlukan:
– Pengetahuan dan keterampilan teknis estimator, seperti membaca gambar, melakukan estimasi (perhitungan), dll.
– Personal judgement berdasarkan pengalaman estimator.
Estimasi dibedakan menjadi:
– Estimasi biaya konseptual
– Estimasi biaya detail







































DAFTAR PUSTAKA

Doyle P.2000. Value-Based Marketing: Marketing Strategies For Corporate Growth and Shareholder Value. England. John Wiley & Sons Ltd.
Kotler P1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Edisi Revisi. Jakarta. PT.Prenhalindo
Kotler P. 2000. Marketing Management. Millenium Edition.International Edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Kotler P. 2003. Marketing Management. 11 Ed. International Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Peter JP., Olson, JC 2013. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran . Edisi 9.Mc Graw-Hill. Jakarta. Salemba Empat.
Schiffman LG & Kanuk, LL.,2000. Consumer Behavior. 7th Edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Sumarwan U. 2003. Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: Ghalia Indonesia
Suprapto J., Nandan Limakrisna., Perilaku Konsumen dan Strategi pemasaran: Untuk Memenangkan Persaingan Bisnis. Jakarta. 2007.,Edisi Revisi.  Mitra Wacana Media



Comments

Popular posts from this blog

MARKET SHARE ( PANGSA PASAR)

SURVEY DATA PENJUALAN HANDPHONE DI INDONESIA

PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN DAN STRATEGI PEMASARAN

WISATA PULAU LEMABAT PART.2

CITRA MERK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

WISATA DANAU KELIMUTU PULAU FLORES

KULIAH SAMBIL KERJA

KONSEP PEMASARAN

PENGARUH MEREK DAN COUNTRY OF ORIGIN TERHADAP SIKAP KONSUMEN DALAM MEMILIH HANDPHONE